Siapa yang tak mengenal Lalu Nasib, ia adalah seorang Maestro pewayangan sasak. Di tangannya, Wayang Sasak tidak lagi dipandang sebagai tontonan kuno yang berjarak dari realitas sosial.
Dalam konstelasi seni pewayangan di tanah Sasak, nama Lalu Nasib bukan sekadar identitas seorang dalang, melainkan sebuah institusi kebudayaan yang hidup.
Sebagai salah satu maestro, Lalu Nasib telah melampaui batas-batas pakem tradisional, ia menjadikan seni pertunjukan sebagai media komunikasi massa yang sangat efektif.
Kekuatan utamanya terletak pada kemampuannya dalam melakukan reaktualisasi tradisi. Di tangannya, Wayang Sasak tidak lagi dipandang sebagai tontonan kuno yang berjarak dari realitas sosial.
Melalui karakter-karakter jenaka seperti Amaq Kesek, Papuq Kedok, hingga Alex, Lalu Nasib menyelipkan kritik tajam, pesan-pesan pembangunan, hingga syiar agama dengan bahasa yang renyah namun tetap menjunjung tinggi etika kesantunan lokal.
Lalu Nasib memahami betul, bahwa untuk menjaga tradisi tetap hidup— ia juga harus mampu berbicara sesuai porsi zamannya, tanpa harus kehilangan akar spiritualitasnya.
Lebih dari sekadar penghibur, Lalu Nasib adalah seorang pelestari bahasa. Melalui setiap tarikan suaranya di panggung maupun rekaman kaset yang melegenda, dirinya secara konsisten merawat kosa kata bahasa Sasak di tengah gempuran modernisasi.
Lebih dari itu, Lalu Nasib membuktikan bahwa identitas kedaulatan budaya bisa diperjuangkan melalui tawa dan narasi yang jujur. Dedikasinya membawa Wayang Sasak dari panggung ke panggung, siaran radio hingga televisi, ia lakukan untuk memastikan nilai-nilai kearifan lokal tetap menggema di telinga generasi ke generasi.
Di bawah bayang-bayang kelir dan kerlip lampu belencong, semangat Lalu Nasib akan terus hidup. Ia meninggalkan warisan berupa keberanian untuk berinovasi dan kecintaan yang tulus, tanpa harus kehilangan akar budaya sendiri, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang dibalut dalam kejenakaan yang cerdas.

Tinggalkan Balasan